Hukum Kekekalan Rejeki

Hukum Kekekalan Energi berbunyi,”Energi tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan, hanya dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain.” Saat krisis ekonomi mulai melanda lagi, banyak email dan sms ke saya meminta pendapat saya. Terus terang saya jawab,”Saya tidak kompeten untuk menganalisa ekonomi makro!” Namun ada 1 pertanyaan melalui sms ke saya, yang bisa saya jawab segera,”Mas J, bagaimana pengaruhnya krisis saat ini terhadap bisnis Mas J?” Saya jawab,”Alhamdulillaa h tambah ramai dan laris!” Mungkin dia tercengang membaca balasan sms saya, koq malah rame? Sekejap ia mengirimkan sms susulan,”Tambah ramai? Emang bisnis apaan mas?” Saya jawab,”Salah satunya bisnis saya: Energy Saving.” Masih belum mudeng? Salah satu perusahaan saya, bernama PT. KS Technology, bergerak di bidang industrial automation, menjadi distributor produk penghemat energy listrik bermerek ‘Schneider Electric’. Bukannya saya bersyukur dengan kenaikkan harga listrik yang baru saja diumumkan PLN Batam, namun secara tidak langsung, kita telah menjadi solusi kenaikkan tersebut. Terbukti pabrik dan hotel yang menggunakan produk kita, penghematannya bisa sampai 20%, dengan pengembalian investasi peralatan kurang dari 1 tahun.

Bisnis saya yang lain bergerak di bidang training entrepreneurship. Krisis ekonomi yang membuat terancamnya kenaikkan harga barang, kontan membuat orang mencari penghasilan- penghasilan sampingan. Belum lagi ancaman PHK yang mungkin terjadi setiap saat. Menjadi karyawan bukan jaminan aman lagi. Berwirausaha adalah salah satu solusinya. Nyatanya saat krisis ekonomi tahun 1997, sektor riil yang didominasi UKM bertahan terhadap krisis.

 Apa hubungannya…

…dengan hukum kekekalan energi? Saya menganalogikan Rejeki=Energi, jadi Hukum Kekekalan Rejeki mengatakan

 “Rejeki tidak dapat diciptakan (karena hanya Allah yang menciptakan) atau dimusnahkan, hanya dapat berubah dari satu ‘tangan’ ke ‘tangan’ yang lain.”

Saya gunakan istilah ‘tangan’ agar Anda mudah memahaminya. Bukankah demikian kejadiannya? Rejeki kita yang ‘lepas’ dari tangan kita, berpindah ke tangan orang lain? Saat krisis, sebagian resto kelas menengah akan tutup, disisi lain warung tegal kebanjiran pelanggan, betul? Penjual ban (roda) baru omsetnya menurun, sementara ban bekas jadi laris manis. Apa lagi yang akan laris? Produk-produk dalam negeri akan banyak digemari, karena kenaikkannya tidak sedrastis produk import. Bukankah itu bukti Hukum Kekekalan Rejeki?

Poin saya, yang pertama,“Janganlah takut!” karena rejekinya tidak akan hilang. Poin kedua, ”Kejar dimana rejeki akan berpindah!” Tentu saja, pastikan Anda yang akan kebagian kelebihannya. Seperti pemilik Jawa Pos Grup, Dahlan Iskan mengatakan,”Bahkan kita bisa menyalip di tikungan!” Apa maknanya? Saat pemain lain menyerah, kita tetap bertahan dengan mengubah strategi. Saat orang lain tidak mengiklankan usahanya, kita yang mendominasi kolom iklan (karena sepi). Saat orang lain berhenti berpromosi, kita malah genjar promosi. Tentu saja bukan sekedar mind set berani maju saja, tapi harus mempersiapkan strategi baru untuk ‘menyalip di tikungan’. 

 

Dikutip dari kamisetembang@yahoogroups.com diposting oleh Mas Jaya Setiabudi www.yukbisnis.com

Menyemir Sepatu, Kejujuran Mendatangkan Rizki Berlebih

Begitu meninggalkan kegiatan berjualan Koran, saya beralih ke menyemir sepatu, kegiatan ini saya lakukan setelah sholat isya sampai sekitar pukul 22.00 WIB di sekitar Jl A Yani Semarang.

Menyemir ini saya lakukan bersama teman yang sudah lebih dulu terjun di dunia semir sepatu. Setelah berjalan beberapa waktu saya ketahui ternyata menyemir sepatu ini ada kelompok-kelompok tertentu yang menguasai wilayah-wilayah tertentu pula, dari situ akhirnya saya berpikir lagi dan memutuskan untuk berhenti dari kegiatan ini.

Kegiatan menyemir sepatu masih saya lakukan saat liburan sekolah tiba, jadi saya melakukannya di pagi hari di kantor-kantor sekitar rumah Jl. Kimangunsarkoro Semarang. Selain menyemir saya juga berjualan koran jadi seperti istilah pepatah sekali dayung 2 atau 3 pulau terlampaui.
Ada pengalaman menarik dari kegiatan menyemir sepatu ini, suatu waktu karena kebetulan hanya semir warna hitam yang saya bawa, saya hanya menawarkan jasa semir kepada bapak-bapak yang memakai sepatu hitam saja, tapi alangkah bingungnya saat saya menawarkan jasa semir kepada orang yang besepatu hitam ternyata malah teman sebelahnya yang mengingingkan disemir sepatunya dan sepatu itu berwarna coklat.

Dari situ saya bingung, bengong sejenak sambil memutar otak bagaimana ya ? akhirnya saya berkata jujur bahwa saya hanya membawa semir warna hitam saja. Bapak itu tertawa dan berkata “lucuu…!! Lucuu…!!” akhirnya Bapak itu membeli Koran yang saya bawa dan menyuruh saya membawa uang kembaliannya. Kegiatan ini saya lakukan sampai kelas 6 SD, begitu mulai memasuki masa-masa ujian dan Ebtanas kegiatan ini saya hentikan.

Hikmah yang saya dapat adalah expansi bisnis (semir dan jual koran) dan hikmah dari kejujuran yang dapat membuat orang salut kepada kita dan mungkin memberi lebih dari yang kita duga daripada kita bohong dan malah pusing untuk mencari solusi dari permasalahan. (UWe)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.