Fenomena Mudik Lebaran

Fenomena mudik memang unik dan asyik untuk disimak, begitu juga dengan saya yang sekarang ini hidup cukup jauh dari kampung halaman.

Sebetulnya tidak saat ini saja saya hidup jauh dari orang tua. Beberapa tahun yang lalu saya juga pernah menghabiskan waktu sekitar 2 tahun mencari rizki di Batam, cuma saat itu saya tidak merasakan momen mudik lebaran karena disamping jauh, susah sekali cari tiket pulang ke jawa dan kalaupun ada harganya bisa dua kali lipat. Seperti diketahui transportasi dari Batam hanya bisa dilakukan melalui jalur laut dan udara, tahu sendiri betapa mahalnya tiket pesawat saat peak seasion seperti lebaran, tiket kapal pun susah didapat akhirnya saya berlebaran di tanah perantuan dan baru pulang setelah lebaran berlalu atau biasanya saat lebaran haji.

Kembali ke topik mudik. Persiapan mudik lebaran tahun ini sudah saya rencanakan jauh hari sebelum hari H, sambil tanya teman kanan kiri tentang strategi mudik yang aman dan lancar supaya tidak terjadi seperti tahun lalu perjalanan pulang mudik kami tempuh sekitar 22 jam yang seharusnya cuma 11-12 jam saja, tibalah saatnya untuk melakukan mudik lebaran. Begitu cuti disetujui atasan, tanggal 7 Sep 10 pagi buta saya mulai perjalanan pulang ke Semarang melalui jalur pantura, perjalanan pagi itu berjalan lancar meskipun sudah mulai terlihat agak padat terutama pemudik sepeda motor dan Alahamdulillah sampai rumah di Semarang sekitar pukul 2.30 siang.

Setelah menghabiskan waktu beberapa hari di Semarang untuk merayakan Lebaran dan silaturahmi ke sanak saudara, tiba saatnya kami sekeluarga harus kembali ke Jakarta. Seperti saat ke Semarang saya memulai perjalanan ke Jakarta di pagi buta pula, perjalanan dari Semarang ke Tegal, Cirebon kami lewati dengan lancar. Kepadatan mulai terasa dan jalan merayap begitu masuk daerah Kandanghaur Indramayu dan terus sampai memasuki daerah Sukamandi. Selama menikmati padatnya arus balik disitu dapat dilihat betapa padatnya jalan saat itu, betapa besar effort yang dibutuhkan untuk melakukan tradisi mudik saat lebaran mulai dari waktu, tenaga, uang sampai kadang-kadang raga dan jiwa kita (karena banyak juga saudara-saudara kita yang luka, cacat, bahkan meninggal). Tidak kalah menakjubkan setiap kita melewati POM Bensin, semua tempat pengisian bahan bakar selalu penuh sesak dengan sepeda motor dan mobil yang beristirahat maupun untuk mengisi bahan bakar. Setelah melewati Sukamandi, tol cikampek  alhamdulillah jalan ramai lancar sampai ke rumah.

Kesimpulan yang dapat saya petik dari fenomena mudik lebaran adalah masyarakat kita sebenarnya masih tinggi semangat untuk menjalin silaturahmi dengan keluarga sanak famili di daerah masing-masing sehingga mau berkorban untuk kembali ke kampung halaman minimal setahun sekali saat momen lebaran. Seperti saya rasakan sendiri apabila kita hidup jauh dari orang tua dan saudara saat kita ketemu akan terjadi keakraban tersendiri yang tidak kita rasakan saat kita tinggal / hidup di sekitar mereka dalam waktu lama, itulah fenomena mudik yang mungkin akan kita jalani setiap tahunnya.

One Response to Fenomena Mudik Lebaran

  1. Ping-balik: Faktor Keselamatan Yang Terabaikan « Hidup adalah perjalanan yang penuh hikmah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: