Gigi Tidur

Sebagian dari kita mungkin mempunyai gigi tidur. Gigi tidur biasanya tumbuh di graham bagian paling belakang, hal ini bisa terjadi karena masih adanya gigi graham yang tumbuh padahal penampang tulang rongga mulut tidak mencukupi sehingga gigi graham tersebut tumbuh tidak sebagaimana mestinya atau sering disebut gigi tidur.

Gigi tidur pada permulaannya tidak mengganggu, tetapi karena modelnya lain dari gigi normal lama-kelamaan gigi tidur ini mengganggu juga. Hal pertama yang biasanya dirasakan adalah sisa makanan yang sering susah dibersihkan di bagian graham belakang (gigi tidur), akibat dari sisa makanan yang susah dibersihkan tadi lama-lama bisa menimbulkan gigi menjadi berlubang. Apabila gigi tidur sudah berlubang dokter biasanya menganjurkan untuk dilakukan pengambilan gigi tidur karena gigi yang berlubang tersebut tidak bisa ditambal seperti gigi berlubang pada umumnya. Adapun cara pencabutanya juga lebih spesifik lagi yaitu operasi gigi tidur. Jangan heran kalau penangan gigi tidur ini memang lebih mahal dari gigi yang lain.

Untuk itu bagi anda yang mempunyai gigi tidur ada baiknya segera diperiksakan ke dokter gigi sedini mungkin supaya dapat segera dicabut karena apabila didiamkan lama-kelamaan akan menggangu juga.

Iklan

Fenomena Mudik Lebaran

Fenomena mudik memang unik dan asyik untuk disimak, begitu juga dengan saya yang sekarang ini hidup cukup jauh dari kampung halaman.

Sebetulnya tidak saat ini saja saya hidup jauh dari orang tua. Beberapa tahun yang lalu saya juga pernah menghabiskan waktu sekitar 2 tahun mencari rizki di Batam, cuma saat itu saya tidak merasakan momen mudik lebaran karena disamping jauh, susah sekali cari tiket pulang ke jawa dan kalaupun ada harganya bisa dua kali lipat. Seperti diketahui transportasi dari Batam hanya bisa dilakukan melalui jalur laut dan udara, tahu sendiri betapa mahalnya tiket pesawat saat peak seasion seperti lebaran, tiket kapal pun susah didapat akhirnya saya berlebaran di tanah perantuan dan baru pulang setelah lebaran berlalu atau biasanya saat lebaran haji.

Kembali ke topik mudik. Persiapan mudik lebaran tahun ini sudah saya rencanakan jauh hari sebelum hari H, sambil tanya teman kanan kiri tentang strategi mudik yang aman dan lancar supaya tidak terjadi seperti tahun lalu perjalanan pulang mudik kami tempuh sekitar 22 jam yang seharusnya cuma 11-12 jam saja, tibalah saatnya untuk melakukan mudik lebaran. Begitu cuti disetujui atasan, tanggal 7 Sep 10 pagi buta saya mulai perjalanan pulang ke Semarang melalui jalur pantura, perjalanan pagi itu berjalan lancar meskipun sudah mulai terlihat agak padat terutama pemudik sepeda motor dan Alahamdulillah sampai rumah di Semarang sekitar pukul 2.30 siang.

Setelah menghabiskan waktu beberapa hari di Semarang untuk merayakan Lebaran dan silaturahmi ke sanak saudara, tiba saatnya kami sekeluarga harus kembali ke Jakarta. Seperti saat ke Semarang saya memulai perjalanan ke Jakarta di pagi buta pula, perjalanan dari Semarang ke Tegal, Cirebon kami lewati dengan lancar. Kepadatan mulai terasa dan jalan merayap begitu masuk daerah Kandanghaur Indramayu dan terus sampai memasuki daerah Sukamandi. Selama menikmati padatnya arus balik disitu dapat dilihat betapa padatnya jalan saat itu, betapa besar effort yang dibutuhkan untuk melakukan tradisi mudik saat lebaran mulai dari waktu, tenaga, uang sampai kadang-kadang raga dan jiwa kita (karena banyak juga saudara-saudara kita yang luka, cacat, bahkan meninggal). Tidak kalah menakjubkan setiap kita melewati POM Bensin, semua tempat pengisian bahan bakar selalu penuh sesak dengan sepeda motor dan mobil yang beristirahat maupun untuk mengisi bahan bakar. Setelah melewati Sukamandi, tol cikampek  alhamdulillah jalan ramai lancar sampai ke rumah.

Kesimpulan yang dapat saya petik dari fenomena mudik lebaran adalah masyarakat kita sebenarnya masih tinggi semangat untuk menjalin silaturahmi dengan keluarga sanak famili di daerah masing-masing sehingga mau berkorban untuk kembali ke kampung halaman minimal setahun sekali saat momen lebaran. Seperti saya rasakan sendiri apabila kita hidup jauh dari orang tua dan saudara saat kita ketemu akan terjadi keakraban tersendiri yang tidak kita rasakan saat kita tinggal / hidup di sekitar mereka dalam waktu lama, itulah fenomena mudik yang mungkin akan kita jalani setiap tahunnya.

Welcome back to traffic jam

Mulai minggu kemarin lalu lintas Jakarta sudah kembali normal, seperti biasa setelah sebelumnya agak lenggang karena suasana libur Lebaran. Anak-anak sudah mulai masuk sekolah yang cuti sudah mulai masuk kerja lagi, ya Jakarta sudah menunjukan hiruk pikuknya. Dua minggu lalu suasana masih agak lengang jadi perjalanan ke kantor bisa ditempuh dalam waktu 1 jam saja (maklum karena rumah jauh jadi perjalanan 1 jam sudah termasuk cepat) sedang minggu ini sudah kembali 2 jam seperti hari-hari normal biasa.

Sepanjang perjalanan yang hampir selalu ditemani Elshinta berita kepadatan dimana-mana sudah terdengar mulai antrian masuk pintu tol, kendaraan yang mogok sampai kecelakaan yang selalu menghiasi hari-hari Ibukota tercinta ini.

Welcome back to traffic jam, nikmati kembali suasana hiruk pikuk nafas Jakarta yang seakan tidak bisa lepas dari masalah kemacetan.

Siapa Boss Anda?

Di setiap organisasi perusahaan manapun pasti ada struktur organisasinya. Ada yang menjadi direktur, vice presiden, general manager, manager, supervisor sampai yang paling rendah adalah staff.
Kalau kita lihat secara struktur organisasi di atas direktur adalah boss atau pimpinan dari seluruh posisi organisasi yang lainnya. Apakah itu betul ? jawabanya bisa betul dan bisa juga tidak.
Kenapa betul ? karena memang demikian adanya, setiap orang pasti tahu kalau direktur pasti boss mungkin bisa dikatakan big boss, sedang manager dan supervisor kita anggap boss karena kita diposisi terendah yaitu staff.
Bisa dikatakan tidak betul karena kecendrungan manusia adalah bekerja bagus dan bertanggungjawab saat ditungguin bosnya jadi apabila boss tidak ditempat atau pergi keluar ada saja kecendrungan untuk malas atau kurang bertanggung jawab terhadap apa yang sudah bitugaskan kepadanya.
Jawaban yang paling tepat menurut saya adalah setiap kita adalah boss atau pemimpin, kenapa demikian juga ? karena sudah jelas disinggung dalam Al Quran yang intinya “Setiap kita adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawabanya kelak di akhirat”. Ayah sebagai pemimpin keluarga, ibu sebagai pemimpin di rumah kalau tidak ada ayah, dan kita sebagai pemimpin diri kita sendiri.
Demikian juga dalam dunia kerja, kalau kita sudah tahu dan sadar akan hakikat penegrtian di atas maka kita akan selalu berusaha bertangung jawab setiap semua pekerjaan atau tugas yang dibebankan kepada kita, karena kita itu pemimpin.

Menjadi Anggota Milist Pengusaha Muslim

Sudah setahun lamanya saya tidak menambahkan tulisan di blog ini, disamping karena kesibukan juga karena keinginan untuk membesarkan blog yang berbayar, tetapi alangkah sedihnya setelah hampir setahun membesarkan blog dan sudah mulai terlihat hasilnya dengan peningkatan rangking pagerank maupun alexa tiba-tiba hilang semua artikel tanpa diketahui penyebabnya apa.

Kesibukanku mulai berpindah yang tadinya mencoba belajar menulis di blog beralih menjadi pembaca setia di sebuah milist yang insya Allah bagus untuk kita ikuti, milist tersebut bernama Pengusaha Muslim. Setelah berjalan beberapa lama alhamdulillah Yayasan Pengusaha Muslim menerbitkan sebuah majalah sebagi media komunikasi untuk memperkenalkan komunias Pengusaha Muslim sekaligus memberikan gambaran dan wawasan tentang berbisnis secara syar’i.

One-day Assessment Centre

(Ditayangkan di Kompas, 22 November 2008)

Seorang guru pernah mengatakan pada saya bahwa mengasah manusia bekerja jauh lebih mudah daripada mengasuh-asah murid di sekolah. Alasannya, bibit yang masuk ke perusahaan adalah bibitbibit pilihan, sementara yang masuk ke sekolah, masih tercampur aduk. Hal ini memang ada benarnya. Namun, teman saya ini lupa bahwa mengajar di sekolah ataupun di universitas, seperti yang saya alami sendiri, sangat dimudahkan oleh niat mahasiswa untuk belajar dan untuk lulus ujian, sehingga si pengajar biasanya lebih punya ‘power’. Di perusahaan, terasa betul betapa manusia dewasa ini punya pilihan untuk belajar ataupun tidak belajar, serta ingin menentukan cara belajarnya sendiri. Sarana pelatihan, sharing knowledge maupun seminar yang sudah susah-susah diupayakan dan diselenggarakan oleh perusahaan untuk mengembangkan talenta, tak jarang disepelekan. Sebagai fasilitator pelatihan di perusahaan, teman saya geleng-geleng kepala bila melihat sikap-sikap manusia dewasa yang terlihat tidak bersemangat lagi untuk belajar, seperti titip absen, banyak bercanda, datang terlambat, merayu trainer untuk menyelesaikan sesi lebih cepat, sibuk ber-sms, menelpon berlama-lama, ataupun sengaja memperpanjang- panjang waktu istirahat.  

Bila bicara mengenai pabrik talenta, banyak orang langsung menarik nafas panjang dan mengisyaratkan ‘frustrasi’. Mulai dari yang lemot, sampai yang tidak ada motivasi. Singkat kata, di samping kesulitan fungsional kita juga menghadapi kesulitan vitalitas, dari yang ingin memperkaya asset maupun yang akan dijadikan asset. Sebagai akibat, banyak manajemen perusahaan yang kemudian memutuskan untuk ‘membeli jadi’ saja orang bertalenta dan menomorduakan pengembangan sumber daya manusia di tempat kerjanya.

Membangun talenta bukanlah hal baru. Selain itu istilah talenta bukanlah ditujukan hanya kepada orang orang yang berbakat special (baca: gifted), yang populasinya hanya seperberapa persen dari populasi dunia. Adanya ‘welders’ Indonesia alias tukang las bersertifikat yang bekerja secara global, bukan hal yang terjadi kemarin sore. Tukang kayu yang mumpuni secara teknis, dan bekerja rapih dan teliti , juga adalah individu bertalenta dan bisa membawa devisa negara.  Keadaan sekarang di mana ketersediaan orang bertalenta tidak seimbang dibandingkan kebutuhannyalah yang menyebabkan kita tidak bisa berlamalama menunggu agar talenta sumber daya manusia kita matang.

Kesulitan pembinaan talenta perlu kita sikapi secara optimistis, terutama karena jumlah manusia di negara kita yang demikian banyak, sehingga menggambarkan potensi kekuatan ‘human capital’ yang tidak terhingga. Bukankah kita sudah membuktikan terciptanya kampung pengrajin tas di Tanggulangin? Bayangkan bila kemudian di salah satu kampung kita, berkembang ketrampilan IT yang hebat, sehingga bisa menelorkan programmerprogrammer kelas dunia seperti programmer asal Bangalore, India.

Gantung Standar yang Super-Tinggi

Organisasi yang sanggup menelorkan manusia bertalenta, biasanya mempunyai standar kinerja yang menuntut individunya bekerja mati-matian untuk mencapai presisi dan keunggulan kinerja, tidak tanggungtanggung. GE adalah contoh perusahaan yang tidak raguragu menuntut para top manajemennya untuk berkinerja lebih. Perusahaan ini juga menjunjung tinggi nilainilai profesi yang distandarkan dan senantiasa diujikan ke setiap eksekutif. Tidak lolos ujian berarti keluar dari perusahaan. GE juga adalah contoh perusahaan yang memperhatikan dan melakukan pendekatan pada setiap individu di perusahaan secara utuh dan unik, sampai kepada kesejahteraan keluarganya. “Tidak ada formula yang general untuk membentuk talenta individual”, demikian ujar CEO General Electrics. 

Dapatkan hatinya dulu

Salah satu hal yang sering menghambat dalam pengembangan talenta adalah bila kita melihat talenta sebagai sesuatu yang melulu ‘vocational’, sehingga fokus kita hanya memompakan ilmu dan ketrampilan pada individunya. Saat individu dinilai seharusnya ‘sudah lulus’ dan ‘bisa dilepas’, pada kenyataannya tak jarang kita frustrasi sendiri bila kita tidak melihat pembelajaran yang diberikan membuahkan hasil yang diinginkan. Ternyata, kita masih sering lupa bahwa individu yang bertalenta adalah individu yang selain pandai, juga bermotivasi tinggi, berinisiatif dan kuat dalam menyambut tantangan. Artinya, latihan ketrampilan teknis saja, sama sekali tidak menjamin terbentuknya talenta yang kita inginkan.  Individu bertalenta, sudah hapal mati prosedur kerjanya, sudah menikmati seni berprofesinya, bahkan mempunyai semangat yang memancar dari kinerjanya, apapun profesinya.

Tentunya kita semua setuju bahwa tanpa perhatian sepenuh hati, individu tidak mungkin menguasai suatu ketrampilan sampai tuntas. Adanya ‘passion’, konsentrasi dan fokus-lah yang akan membuat individu bisa memberikan seluruh perasaan dan enerjinya untuk menguasai suatu ketrampilan dan pengetahuan. Jangan anggap sepele pernyataan: “companies need to not only capture people’s minds but their hearts”. Bila dalam mengembangkan individu kita juga menstrategikan program yang menyentuh hatinya, membuatnya ‘excited’, membawa individu merasakan secara langsung, barulah bisa kita lihat pembelajaran membuahkan hasil yang lebih nyata. Saat kita serius melakukan komunikasi efektif dan tidak lelah memacu, mendera, memonitor kemajuannya, barulah pengembangan ‘mindset’ dan prinsip kerja berkualitas dan professional akan menyertai pembelajaran yang diberikan.

Dalam mengembangkan pabrik talenta yang efektif, suasana belajar perlu dibuat kondusif. Hubungan psikologis dilandasi trust dan respect antara manajemen dan individulah yang juga akan membentuk sikap belajar individu. Individu perlu mendapat kesempatan untuk mengeluarkan ide , berani bereksperimen, berinovasi dan merasa aman bahwa ide dan buah pikirannya akan dihargai dan ditanggapi. Talenta yang optimal hanya di tampilkan oleh individu dewasa yang ‘self directed dan tertantang untuk menyandang tanggung jawab lebih. Bila kita sudah memahami bahwa pikiran, pengetahuan, ketrampilan manusia bisa berkembang tidak berbatas, mengapa tidak kita bersikeras mengembangkannya matimatian?

Dikutip dari kamisetembang@yahoogroups.com diposting oleh Mas Budi Jalandri