Yuk, Budidaya Lele yang Murah Meriah

Akhmad Nurismarsyah – detikFinance

Jakarta – Pekarangan rumah luas dan Anda suka budidaya ikan? Ada baiknya Anda melirik budidaya lele ini. Budidaya lele ini ternyata tak melulu ‘jorok’ karena sudah bisa dikembangkan sistem budidaya yang lebih murah, bersih dan menjanjikan dengan suplemen organik sehingga bisa maksimal hasilnya.

Bisnis budidaya ikan lele ini pun tampaknya akan selalu menguntungkan. Hal ini karena semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan ikan sebagai sumber protein yang tinggi dengan harga yang terjangkau. Ikan menjadi alternatif mengingat harga daging yang makin hari makin mahal.

Ikan lele sendiri memiliki nilai gizi yang mumpuni disamping dagingnya yang gurih. Lele mengandung protein yang tinggi dan zat penguat tulang (kalsium) yang baik untuk makanan anak balita. Selain itu lele juga mengandung mineral lain yang penting pula untuk kesehatan tubuh.

Dengan fakta-fakta itu, maka pada akhirnya ikan lele dapat dijadikan peluang usaha yang menarik. Mengingat selama ini budidaya ikan lele selalu terkesan ‘jorok’, kini budidaya ikan air tawar tersebut sudah berkembang menjadi lebih murah, bersih, dan menjanjikan.

“Sekarang untuk budidaya ikan lele, kita sudah ada suplemen organik yang dapat membantu budidaya lele lebih maksimal. Karena suplemen organik ini memiliki fungsi sebagai penjaga kualitas air, menignkatkan percepatan pembesaran bibit lele jika dicampur dengan pakannya, dan mengurangi tingkat mortalitas dari bibit lele,” jelas Deden A.S, sebagai salah seorang pembudidaya lele yang ditemui detikFinance, Minggu (21/11/2010).

Deden, yang memulai budidaya lele ini sejak tahun 2006, diawali hanya iseng-iseng di pekarangan rumahnya dengan membuat kolam dari terpal sebesar 3x3x1 meter yang diisi air setinggi 7O cm. Dengan pola budidaya intensif, kolam tersebut dapat menampung jumlah tanam bibit ikan lele sebanyak kurang lebih 1800-2000 yang masing-masing bibit tersebut berukuran 10-12 cm.

“Setelah membuat kolam dan menaruh bibit lele tadi, kemudian memberi pakan dan suplemen organik dengan waktu teratur, selama 45 hari saya bisa memanen lele tersebut dengan jumlah berat sebesar 200 Kg – 250 Kg untuk jumlah maksimalnya,” ujar Deden.

Bagi anda yang tertarik mencoba membudidayakan ikan lele ini, Deden memberi asumsi perhitungan yang sederhana. Dimulai dengan membuat kolam dari terpal dengan ukuran 3x3x1 meter yang tentunya memerlukan biaya yang tidak begitu mahal ketimbang membuat kolam dari semen atau kolam gali.

“Masalah perhitungan harga pembuatan kolam dari terpal, tentu semua orang akan tahu berapa biaya yang dibutuhkan. Karena terpal sendiri permeternya murah,” jelas Deden.

Kemudian, Deden memberikan asumsi biaya pembelian bibit lele dengan harga Rp 300 per ekor. Jika untuk kolam 3x3x1 meter dapat menampung bibit kurang lebih 2000 ekor, maka kita hanya perlu mengeluarkan kocek sebesar Rp 600.000 (Rp 300 x 2000 ekor).

Mengingat  lama pembesaran membutuhkan waktu selama 45 hari, maka kebutuhan pakan yang dibutuhkan adalah sejumlah 90 Kg (2 Kg perhari). Nantinya, Biaya yang dibutuhkan adalah sebesar Rp 660.000, dengan harga pakannya perkarung adalah Rp 220.000 seberat 30 Kg.

Adapun, pembelian kebutuhan suplemen organik adalah Rp 180.000 untuk 4 botol selama 45 hari pembesaran bibit. Empat botol tersebut akan difungsikan untuk pemaksimalan kualitas air dan bibit lele.

Pada akhirnya, total biaya yang dibutuhkan adalah kurang lebih Rp 1440000.

Berikut adalah ringkasan dari modal yang dibutuhkan perkolamnya adalah:

  • Harga Bibit Lele : Rp 300 x 2000 ekor = Rp 600.000
  • Harga  Pakan : Rp 220.000 x 3 karung = Rp 660.000
  • Harga Suplemen Organik: Rp 45000 x 4 botol = Rp 180.000
  • Total Biaya Produksi: Rp 1.440.000

Melalui asumsi modal tersebut dari Deden, maka keuntungan yang bisa didapat dari satu buah kolam dengan target panen 2.000 bibit adalah 200 Kg – 250 Kg.

Deden menjelaskan, bahwa harga eceran yang bisa diraih adalah senilai Rp 15.000 perkilonya. Sedangkan untuk harga yang dijual ke pasar, dapat diraih sebesar Rp 12000 perkilonya.

Sehingga, lanjut deden, jika diambil dari asumsi harga terendahnya, maka keuntungan yang bisa diambil adalah Rp 960.000 untuk satu kolam. Jumlah tersebut diambil dari penjualan lele sebanyak 200 Kg x Rp 12.000 yang berjumlah Rp 2400.000 dikurangi biaya produksi yang berjumlah Rp 1.440.000.

“Jika panen yang kita hasilkan maksimal, kita dapat mencapai berat sejumlah 250 Kg. Keuntungan yang bisa diambil dari selisih total penjualan dan biaya produksi adalah sebesar Rp 1.560.000 perkolamnya,” tegas Deden.

Dari penjualan lele tadi saja, jelas Deden, itu sudah merupakan peluang usaha yang menarik di samping aktivitas kesibukan sehari-hari. Karena biaya yang dibutuhkan tidak membutuhkan nilai investasi yang tinggi.

“Dari sisi waktu tidak begitu lama, malah simple dan sederhana. Yang penting disiplin saja dalam jadwal pemberian pakan dan suplemen organiknya.” kata Deden.

Berbicara mengenai peluang yang lebih luas lagi. Hasil dari lele tersebut, dapat dijadikan berbagai macam peluang usaha lainnya yang lebih menarik tentunya.

Selain yang sudah kita ketahui, lele dapat dijadikan menu makanan pecel lele. Namun di sisi lain, hasil dari olahan daging ikan lele dapat dijadikan berbagai macam hasil. Misalnya, daging lele dapat dijadikan nugget lele, abon lele, lele asap, bakso lele, dan bahkan dapat dijadikan filet lele. Mengingat kebutuhan filet lele untuk ekspor sangat tinggi.

“Atau mungkin kita dapat mengembangkan dari hasil ikan lele tersebut menjadi olahan-olahan penganan menurut ide dan kreativitas kita yang memiliki nilai jual tinggi,” ucap Deden.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai budidaya intensif ikan lele, anda dapat menghubungi Departemen Perikanan, atau para pelaku usaha ikan lele seperti Deden A.S ini.

Dikutip dari  http://www.detikfinance.com/read/2010/11/21/174238/1498792/480/yuk-budidaya-lele-yang-murah-meriah#queryString#

Iklan

Peluang Bisnis Waralaba

Berbicara masalah peluang bisnis waralaba, sebenarnya ada banyak usaha waralaba disekitar kita mulai dari yang paling murah sekitar Rp 3 Jt an sampai dengan ratusan juta bahkan milyaran rupiah tergantung disesuaikan dengan kantong kita ( kita mau pilih yang mana). Mengapa memilih usaha waralaba ?

1. Alasan yang pertama yaitu kita tidak perlu repot merintis nama usaha / brand dari awal. Dengan ikut bisnis waralaba kita hanya diharuskan membayar biaya paket perdana dan fee tertententu dan kita sudah bisa menyandang nama usaha waralaba tersebut.

2. Alasan yang kedua yaitu biasanya dengan ikut waralaba modal usaha kita juga dapat segera balik modal / BEP dikarenakan sudah diperhitungkan pangsa pasar dan seterusnya, karena biasanya kalau kita ikut waralaba tertentu sebelumnya diadakan survey pasar dan perhitungan analisa keuangan yang rasional yang bisa kita dapat.

3. Alasan yang ketiga yaitu dukungan manjemen sampai promosi usaha yang biasanya sudah diiuktsertakan dengan pemilik merek dagang waralaba tersebut Salah satu usaha waralaba yang terkenal yaitu primagama milik Purdi E Chandra. Tertarik usaha waralaba ?? silakan klik di www.waralabaku.com

Agen Majalah Pengusaha Muslim Depok

Alhamdulillah, setelah beberapa waktu menjadi anggota milist PM ternyata banyak ilmu yang bisa saya dapatkan terutama yang berhubungan dengan bisnis atau usaha. Di samping trik-trik marketing tak kalah pentingnya yaitu rambu-rambu syariat tentang apa saja yang boleh dan yang tidak boleh kita lakukan apabila kita menjadi seorang bisnisman atau pengusaha.

Pada bulan Desember 2009 Yayasan Pengusaha Muslim menerbitkan Majalah Pengusaha Muslim, maksud dan tujuan diterbitkan majalah salah satunya adalah untuk lebih memeperkenalkan Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI) ke masyarakat luas. Alhamdulillah setelah apply ke penerbit saya diterima menjadi salah satu Agen Majalah Pengusaha Muslim untuk Kota Depok.

Harapan saya semoga dengan menjadi Agen Majalah PM ini bisa menjadi langkah awal untuk berdakwah sekaligus untuk belajar berbisnis.

Warung Kopi ( Warkop )

“Dimana ada kemauan, disitu pasti ada jalan!” Menurut Anda apakah pepatah kata itu masih berlaku? Menurut saya ya! Dalam suatu pelatihan entrepreneur untuk remaja-remaja kurang mampu di jakarta, terlintas suatu ide usaha rumahan yang bisa dilakukan siapa saja. Jadi setelah membaca tulisan yang satu ini, jangan sampai Anda mengatakan ’tidak bisa’ lagi.

Segalanya dimulai dari rumah Anda dan caranya sangat mudah. Saat menjelang malam, keluarkan meja makan Anda di depan pagar rumah Anda. Bagi yang tidak memiliki pagar, ya diletakkan di perbatasan rumah dengan jalan. Boleh juga dialasi dengan karpet plastik (perlak) agar lebih cantik dan tahan kotor. Kemudian keluarkan piring, sendok, garpu, gelas, mangkuk yang Anda miliki dan tatalah diatas meja, layaknya mau berjualan. Jika ada rak piringnya, lebih bagus lagi. Terus keluarkan stok mi instan yang Anda miliki. Biasanya, setiap rumah selalu ada mi instan khan? Jika ada, kardusnya sekalian (serius nih). Jika tidak punya kardus mi instan, minta aja ke warung tetangga. Apa gunanya? Biar kelihatan ’penuh’! Selanjutnya keluarkan menu-menu pelengkap, seperti, telur, sayur (biasanya sawi), kopi, teh, susu, gula dan kawan-kawannya. Jadi deh warkop (warung kopi) ”gepeng” (nama warkop langganan saya di Surabaya).

Apa yang terlintas di benak Anda? “Berapa sih keuntungan menjual mi dan kopi?” Hitung aja, dengan modal mi instan seharga 1200 rupiah, dimasak dengan air, diberi sedikit sayur dan telor (1000 rupiah), bisaterjual 5000 rupiah. Wow, untungnya 100 %! Belum lagi kopi atau teh yang modalnya tak sampai 300 rupiah, bisa dijual dengan harga 2000 rupiah. Eiits, belum selesai, itu baru awalnya, tapi setidaknya lumayan untuk tambah-tambah beli susu untuk anak dirumah, daripada mejanya di-nganggurin. Amati warkop di kota Anda, apa saja yang mereka jual. Ada gorengan, krupuk, roti, kue, jajan pasar, nasi ’kucing’ (jinggo). Apakah Anda pikir, pemilik warkop itu memasak sendiri semuanya? Tidak! Kebanyakan adalah titipan. Ingat hukumnya,”Ada semut, juragan gula datang”. Saat Anda berhasil menarik keramaian, banyak penjual akan mendatangi Anda untuk ’titip’ barangnya dijual di warkop Anda. Yah, seperti Hypermarket begitulah, tidak usah cari supplier, sebaliknya supplier yang mencari mereka.

Selanjutnya tinggal dipoles biar menarik dan pasti membuat orang penasaran. Pasang spanduk yang gede dan menyolok desainnya. Pakai aja plesetan-plesetan seperti ”Starblack Coffee” atau ”Setarbak”, biar kelihatan ’ndeso’ dikit. Di kota Salatiga, saat populernya grup musik New kids on the block, ada yang membuat plesetannya menjadi Warung ”New kids yang goblok”, seru khan! Menunya-pun bisa diplesetin ”India-mie”, ”Kopichino”, pokoknya seliar Anda berfikir.

Sekali lagi, yang penting MELANGKAH! Jangan hitung rejeki pengusaha dengan ’kalkulator’ karyawan, nggak akan ketemu! Banyak orang mengatakan,”Tidak masuk akal”. Menurut saya,”Akalnya yang belum masuk”.

 

Dikutip dari kamisetembang@yahoogroups.com by Mas Jaya Setiabudi http://yukbisnis.com/

Memelihara Guppy

Saya mengenal ikan ini saat masih kecil dengan nama gobby. Yang menarik dari ikan ini adalah bentuk ekornya yang melebar seperti kipas dan berwarna warni.

Guppy merupakan ikan air tawar yang mudah dalam berkembang biak. Apabila anda mau, anda bisa membeli sepasang indukan guppy dan memeliharanya dikolam biasa sekitar 2 – 3 minggu kemudian biasanya ikan sudah mulai beranak pinak. Karena tertarik dengan guppy saya sendiri membeli sepasang ikan tersebut seharga Rp 3.000,- kemudian saya biarkan di kolam buatan depan rumah yang terbuat dari pot besar, dalam 2 minggu saja sudah beranak 10 ekor. Saya diamkan saja dan cuma membersihkan kotoran dan daun yang jatuh di kolam, makin lama ikan guppy makin banyak dan berkembang. dari situ munculah ide bisnis untuk menjual ikan guppy ke pedagang ikan.

Belum sempat ide terlaksana saya sudah dipindah tugas ke Jakarta. Memang kalau kita jeli, sebetulnya banayk sekali peluang bisnis disekitar kita yang bisa kita jadikan tambahan penghasila. Pertanyaannya adalah, apakah kita bisa membaca peluang bisnis tersebut dan mau untuk serius dalam mengembangkannya.

Sanseviera Pagoda, Penghilang Stress dan Bisa Mendatangkan Income

Pertama kali saya beli sanse ini waktu pindah rumah. Kebetulan minggu itu lagi ada pameran tanaman hias. Saat berkeliling bersama istri, saya tertarik pada sanse yang warna daunnya hijau agak tua dan terlihat tegas perbedaan dengan warna putih kekuningan di pinggir daunnya.

Itulah Pagoda, salah satu jenis sanseviera berdaun pendek, kalau kita amati susunan daunnya memang menyerupai pagoda, mungkin karena alasan itulah sanse ini dinamakan pagoda.

Saya beli dengan harga sekitar Rp 75.000,-. Harga tersebut merupakan harga pasaran untuk sanse jenis ini, cuma sanse pagoda ini kelihatannya salah satu jenis sanse yang agak jarang dijumpai . Akhirya saya bawa pulanglah sanse tersebut dengan harapan dapat megembang biakannya dikemudian hari.

Pucuk dicinta ulampun tiba, 3 bulan telah berlalu dan munculah tunas-tunas baru dari samping sanseviera pagoda ini, jumlahnya ada 3 tunas. Setelah dirasa agak besar akhirnya saya pisah masing-masing tunas tersebut, setahun lebih berlalu dari pertama kali saya beli sanse pagoda ini, sekarang jumlahnya ada sekitar 7-8 pot di rumah. Ada beberapa yang saya berikan ke saudara dan induknya yang pertama kali saya beli sudah meninggi dan kemarin mengeluarkan tunas baru lagi (belum sempat dipisah).

Saat di Depok ada pameran tanaman hias iseng-iseng saya menayakan harga sanse pagoda ini, ternyata harganya masih stabil sekitar Rp 70.000,- an. Saat saya menawarkan bagaimana kalau saya menjual atau menitip tanaman ke penjual tersebut. Penjual tersebut mau tapi dengan harga setengahnya. Dalam hati saya bergumam “ternyata budi daya sanse pagoda bisa dijadikan alternative usaha sampingan juga”.

Bayangkan bagiamana kalau di pekarangan rumah  kita ada 10 induk dan dalam jangka 3 bulan masing-masing induk memiliki 3 tunas, maka dalam 3 bulan kedepan kita bisa menjual 30 tanaman ini dengan harga Rp 30.000,- an, maka hasilnya adalah Rp. 30.000,- x 30 = Rp 900.000,- masih lagi indukan tadi InsyaAllah juga sudah mengeluarkan tunas lagi saat yang 30 tanaman tadi kita jual. Menarik bukan ? Bagi anda yang suka dan tertarik dengan tanaman ini tidak ada salahnya untuk mencoba mengembangbiakannya. (UWe)

Reseller Pulsa Elektronik

Hampir sekitar 1 tahun yang lalu saya mengantar adik ke dealaer pulsa isi ulang electronic, waktu itu tujuan utamanya adalah melatih adik saya untuk belajar mendapatkan  pendapatan tambahan dari menjual pulsa isi ulang elecronik tersebut, bukan apa-apa karena selama ini setiap bulan adik selalu saya beri jatah per bulannya, dengan memberikan modal ( pancing ) sekitar Rp 100.000,- saya harapkan kedepannya saya sudah tidak memberi dia jatah perbulan lagi.

 

Pertama-tama yang membeli pulsa isi ulang adalah dari keluarga sendiri seperti kakak, om, bulek dan sedikit teman dari istri. Tambah hari dan berganti bulan bertambahlah konsumen pulsa isi ulang tersebut, mulai dari tetangga kanan kiri, teman dari om sampai tetangga satu komplek yang mulai membeli ke tempat adik ( begitu hebatnya marketing dari mulut ke mulut ya..).

 

Karena tutukan kerjaan saya sudah tidak dapat lagi memantau perkembangan usaha sampingan adik saya tersebut, herannya setelah mungkin 4 – 5 bulan tidak bertemu, kemarin adik saya main ke Jakarta karena kangen dengan kelponakannya.

 

Dari pembicaraan kelurga sampai akhirnya saya menanyakan perkembangan usaha penjualan pulsa tersebut, dia mengaku sekarang ini setiap minggunga dia membeli pulsa Rp 1.000.000,- jadi kalau saya  kalkulasikan dalam satu bulan adik saya membeli pulsa Rp 4.000.000,- dalam hati saya bersyukur karena tujuan saya pertama kali sudah mulai menampakkan hasil dan terhitung lumayan.

 

Pertanyaannya sekarang adalah sebetulnya banyak peluang usaha disekitar kita yang apabila kita mau dan jeli, kita bisa mendapatkan keuntungan yang mungkin dapat dikatakan tidak sedikit. Bayangkan dalam waktu sekitar 6- 8 bulan dari Rp 100.000,- sudah berkembang menjadi Rp 4.000.000,-. Tertarik ?? (UWe)