Appearance is Cheating

Banyak sekali kita jumpai pepatah atau  kata-kata mutiara baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa inggris. Judul dari artikel inipun merupakan kata pepatah yang saya anggap menarik untuk saya angkat kedalam sebuah tulisan. Pertama kali mendengar kata pepatah ini saat saya masih mengikuti lembaga bimbingan bahasa inggris di Batam. Saat mengajar bahasa guru pembimbing kami biasa mengeluarkan joke atau semacam penyegar suasana belajar agar lebih terasa santai dan lebih hidup. Tak tahu kenapa saat itu si Pak Guru kami ini mencairkan suasana dengan kalimat appearance is cheating.

Pada mulanya kalimat itu saya anggap biasa saja seperti yang lainnya yang biasa keluar dari guru pembimbing. Tapi dengan berjalannya waktu lama kelamaan setelah saya renungkan dan pengalaman yang saya dapatkan arti dari kalimat tersebut ternyata cukup dalam juga.

Dalam kehidupan sehari-hari kadang atau malah mungkin sering kita temui orang-orang yang masuk dalam kategori appearance is cheating ini. Dari beberapa pengalaman saya juga, kadang bertemu dan bergaul dengan orang yang masuk kategori tersebut. Salah satu contohnya adalah orang yang saat pertama kali bertemu terkesan sebagai seorang yang benar-benar handal dan bisa kita percaya untuk melaksanakan suatu tugas tertentu karena omong besarnya yang meyakinkan, tetapi saat tiba saatnya dalam pelaksanaan pekerjaan baru ketahuan belangnya bahwa sebenarnya orang tersebut adalah membual belaka dan tidak tahu apa-apa, ada saja alasan yang keluar dari mulutnya untuk menutupi ketidakmampuannya ini.

Untuk itu janganlah kita mudah tertipu penampilan orang, jangan gampang minder atau rendah diri melihat dan mendengar kata-kata dan penampilan orang lain, karena belum tentu kemampuan kita kalah dari mereka. Karena mungkin itu adalah Appearance is Cheating.

Iklan

Nakal itu Bagus !

Kalau menengok masa kecil saya, mungkin sebagian besar guru sekolah saya tidak akan menyangka jika saya akan ‘jadi orang’ (bukannya setan). Saking bandelnya, tetangga saya menyebut saya ‘anak setan’. Saat di bangku SD, saya hampir dikeluarkan oleh kepala sekolah saya, karena sering melanggar peraturan. Menginjak bangku SMP, seorang guru BP (Bimbingan Penyuluhan) menyumpahi saya sambil jarinya menuding “Kamu gak bakal sukses!!!”. Bisa jadi jika guru BP saya melihat saya jadi pembicara seminar, mungkin beliau langsung pingsan.

Ada apa dengan mereka? Atau ada apa dengan saya? Mungkin mereka menilai saya malas, suka buat keributan, nyontek terus. Secara prestasi tertulis, diri saya hampir selalu rangking 3 (dari belakang). Itu menurut mereka lho…! Menurut saya, guru saya yang tidak memahami saya. Meskipun selama 3 tahun di bangku SMP, saya tidak pernah mencatat, tapi di mata pelajaran Bahasa Indonesia saat kelas 3 SMP, catatan saya penuh dan rapi. Bukan karena saya suka mata pelajarannya, tapi saya suka gurunya. Dari mayoritas guru yang mengatakan saya anak setan, gak bakal sukses dan umpatan lainnya, hanya beliau yang mengelus saya dan mengatakan,”Jaya, kamu itu pintar!”. Sama dengan yang dikatakan kedua orang tua saya,”Kamu itu pintar”.

Mengapa saya tidak termotivasi untuk belajar? Menurut saya, (maaf) guru saya yang ‘goblok’! Mereka tidak tahu potensi saya dan men-generalisasi pribadi saya dengan para siswa umumnya. Ditambah, metode pengajaran yang sangat membosankan dan penuh hapalan. Sedangkan saya sangat menyukai logika dan perhitungan. Maka dari itu saya menemukan titik balik saya saat saya masuk sekolah kejuruan dan universitas, meskipun masih ada sebagian mata pelajarannya, menurut saya adalah ‘sampah’.

 

Asal tidak kurang ajar & kriminal

            Orang tua saya selalu menanamkan, nakalnya anak-anak adalah suatu yang wajar, asalkan tidak kurang ajar dan berbau kriminal. Nakalnya anak-anak adalah simbol ‘ekspresi’ kebebasan. Anak ‘ngeyel’ berarti ‘gigih’ memperjuangkan sesuatu. Tidak mau sama dengan yang lain artinya ‘kreatif’ dan berani tampil beda. Lasak artinya ‘aktif’. Tidak takut salah artinya ‘berani mengambil resiko’. Bukankah pribadi para pemimpin dan pengusaha adalah seperti itu? Bandingkan dengan seorang anak yang diarahkan oleh orang tuanya untuk ‘patuh’ pada peraturan, tidak boleh ‘membangkang’, berfikir ‘urut’ dan ‘lurus’, serta ‘menghindari resiko’. Apa jadinya mereka saat ini atau kelak? Karyawan selamanya!

            Masalahnya, jarang ada sekolah yang mengijinkan muridnya untuk tampil beda dan kreatif. Salah satunya adalah sekolah anak saya,”Tije Club”. Meskipun masih relatif baru dan pendirinya ‘Kak Tije’ adalah master di bidang hukum, namun dia adalah sosok pendidik yang demokrat. Pernah suatu saat, anak saya membuat  PR menulis huruf ‘B’. Namun anak saya memenuhi 1 halaman itu dengan huruf bervariasi, ada ‘L’, ‘F’ dan bergai huruf lainnya. Istri saya menanyakan kepada saya, apa yang harus dilakukan? Saya bilang,”diamkan saja, saya mau lihat respon gurunya”. Eh, ternyata gurunya memberi nilai 100 dan tulisan ‘BAGUS’. Kenapa? Intinya khan belajar menulis huruf. Nah, anak saya bahkan bisa menulis lebih dari 1 huruf, ya bagus khan?

            Sebagian dari pembaca akan berfikir pola fikir kita (saya dan Kak Tije), ‘nyleneh’. Tapi, menurut saya, itulah kreativitas. Yang penting khan tidak melanggar etika dan norma. Ingat, terlalu disiplin dapat membunuh kreativitas seorang anak. Tapi terlalu longgar juga dapat membuat anak kurang ajar. Jadi boleh disiplin, asal jangan mematikan kreativitas. Boleh nakal, asal tidak kurang ajar dan kriminal. Boleh juga protes tentang tulisan saya, wong namanya juga pendapat. Kalo semua mengangguk, artinya saya tidak kreatif, atau Anda tidak kreatif. Bingung? Bagus!

 

Dikutip dari kamisetembang@yahoogroups.com by Mas Jaya

One-day Assessment Centre

(Ditayangkan di Kompas, 22 November 2008)

Seorang guru pernah mengatakan pada saya bahwa mengasah manusia bekerja jauh lebih mudah daripada mengasuh-asah murid di sekolah. Alasannya, bibit yang masuk ke perusahaan adalah bibitbibit pilihan, sementara yang masuk ke sekolah, masih tercampur aduk. Hal ini memang ada benarnya. Namun, teman saya ini lupa bahwa mengajar di sekolah ataupun di universitas, seperti yang saya alami sendiri, sangat dimudahkan oleh niat mahasiswa untuk belajar dan untuk lulus ujian, sehingga si pengajar biasanya lebih punya ‘power’. Di perusahaan, terasa betul betapa manusia dewasa ini punya pilihan untuk belajar ataupun tidak belajar, serta ingin menentukan cara belajarnya sendiri. Sarana pelatihan, sharing knowledge maupun seminar yang sudah susah-susah diupayakan dan diselenggarakan oleh perusahaan untuk mengembangkan talenta, tak jarang disepelekan. Sebagai fasilitator pelatihan di perusahaan, teman saya geleng-geleng kepala bila melihat sikap-sikap manusia dewasa yang terlihat tidak bersemangat lagi untuk belajar, seperti titip absen, banyak bercanda, datang terlambat, merayu trainer untuk menyelesaikan sesi lebih cepat, sibuk ber-sms, menelpon berlama-lama, ataupun sengaja memperpanjang- panjang waktu istirahat.  

Bila bicara mengenai pabrik talenta, banyak orang langsung menarik nafas panjang dan mengisyaratkan ‘frustrasi’. Mulai dari yang lemot, sampai yang tidak ada motivasi. Singkat kata, di samping kesulitan fungsional kita juga menghadapi kesulitan vitalitas, dari yang ingin memperkaya asset maupun yang akan dijadikan asset. Sebagai akibat, banyak manajemen perusahaan yang kemudian memutuskan untuk ‘membeli jadi’ saja orang bertalenta dan menomorduakan pengembangan sumber daya manusia di tempat kerjanya.

Membangun talenta bukanlah hal baru. Selain itu istilah talenta bukanlah ditujukan hanya kepada orang orang yang berbakat special (baca: gifted), yang populasinya hanya seperberapa persen dari populasi dunia. Adanya ‘welders’ Indonesia alias tukang las bersertifikat yang bekerja secara global, bukan hal yang terjadi kemarin sore. Tukang kayu yang mumpuni secara teknis, dan bekerja rapih dan teliti , juga adalah individu bertalenta dan bisa membawa devisa negara.  Keadaan sekarang di mana ketersediaan orang bertalenta tidak seimbang dibandingkan kebutuhannyalah yang menyebabkan kita tidak bisa berlamalama menunggu agar talenta sumber daya manusia kita matang.

Kesulitan pembinaan talenta perlu kita sikapi secara optimistis, terutama karena jumlah manusia di negara kita yang demikian banyak, sehingga menggambarkan potensi kekuatan ‘human capital’ yang tidak terhingga. Bukankah kita sudah membuktikan terciptanya kampung pengrajin tas di Tanggulangin? Bayangkan bila kemudian di salah satu kampung kita, berkembang ketrampilan IT yang hebat, sehingga bisa menelorkan programmerprogrammer kelas dunia seperti programmer asal Bangalore, India.

Gantung Standar yang Super-Tinggi

Organisasi yang sanggup menelorkan manusia bertalenta, biasanya mempunyai standar kinerja yang menuntut individunya bekerja mati-matian untuk mencapai presisi dan keunggulan kinerja, tidak tanggungtanggung. GE adalah contoh perusahaan yang tidak raguragu menuntut para top manajemennya untuk berkinerja lebih. Perusahaan ini juga menjunjung tinggi nilainilai profesi yang distandarkan dan senantiasa diujikan ke setiap eksekutif. Tidak lolos ujian berarti keluar dari perusahaan. GE juga adalah contoh perusahaan yang memperhatikan dan melakukan pendekatan pada setiap individu di perusahaan secara utuh dan unik, sampai kepada kesejahteraan keluarganya. “Tidak ada formula yang general untuk membentuk talenta individual”, demikian ujar CEO General Electrics. 

Dapatkan hatinya dulu

Salah satu hal yang sering menghambat dalam pengembangan talenta adalah bila kita melihat talenta sebagai sesuatu yang melulu ‘vocational’, sehingga fokus kita hanya memompakan ilmu dan ketrampilan pada individunya. Saat individu dinilai seharusnya ‘sudah lulus’ dan ‘bisa dilepas’, pada kenyataannya tak jarang kita frustrasi sendiri bila kita tidak melihat pembelajaran yang diberikan membuahkan hasil yang diinginkan. Ternyata, kita masih sering lupa bahwa individu yang bertalenta adalah individu yang selain pandai, juga bermotivasi tinggi, berinisiatif dan kuat dalam menyambut tantangan. Artinya, latihan ketrampilan teknis saja, sama sekali tidak menjamin terbentuknya talenta yang kita inginkan.  Individu bertalenta, sudah hapal mati prosedur kerjanya, sudah menikmati seni berprofesinya, bahkan mempunyai semangat yang memancar dari kinerjanya, apapun profesinya.

Tentunya kita semua setuju bahwa tanpa perhatian sepenuh hati, individu tidak mungkin menguasai suatu ketrampilan sampai tuntas. Adanya ‘passion’, konsentrasi dan fokus-lah yang akan membuat individu bisa memberikan seluruh perasaan dan enerjinya untuk menguasai suatu ketrampilan dan pengetahuan. Jangan anggap sepele pernyataan: “companies need to not only capture people’s minds but their hearts”. Bila dalam mengembangkan individu kita juga menstrategikan program yang menyentuh hatinya, membuatnya ‘excited’, membawa individu merasakan secara langsung, barulah bisa kita lihat pembelajaran membuahkan hasil yang lebih nyata. Saat kita serius melakukan komunikasi efektif dan tidak lelah memacu, mendera, memonitor kemajuannya, barulah pengembangan ‘mindset’ dan prinsip kerja berkualitas dan professional akan menyertai pembelajaran yang diberikan.

Dalam mengembangkan pabrik talenta yang efektif, suasana belajar perlu dibuat kondusif. Hubungan psikologis dilandasi trust dan respect antara manajemen dan individulah yang juga akan membentuk sikap belajar individu. Individu perlu mendapat kesempatan untuk mengeluarkan ide , berani bereksperimen, berinovasi dan merasa aman bahwa ide dan buah pikirannya akan dihargai dan ditanggapi. Talenta yang optimal hanya di tampilkan oleh individu dewasa yang ‘self directed dan tertantang untuk menyandang tanggung jawab lebih. Bila kita sudah memahami bahwa pikiran, pengetahuan, ketrampilan manusia bisa berkembang tidak berbatas, mengapa tidak kita bersikeras mengembangkannya matimatian?

Dikutip dari kamisetembang@yahoogroups.com diposting oleh Mas Budi Jalandri