Appearance is Cheating

Banyak sekali kita jumpai pepatah atau  kata-kata mutiara baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa inggris. Judul dari artikel inipun merupakan kata pepatah yang saya anggap menarik untuk saya angkat kedalam sebuah tulisan. Pertama kali mendengar kata pepatah ini saat saya masih mengikuti lembaga bimbingan bahasa inggris di Batam. Saat mengajar bahasa guru pembimbing kami biasa mengeluarkan joke atau semacam penyegar suasana belajar agar lebih terasa santai dan lebih hidup. Tak tahu kenapa saat itu si Pak Guru kami ini mencairkan suasana dengan kalimat appearance is cheating.

Pada mulanya kalimat itu saya anggap biasa saja seperti yang lainnya yang biasa keluar dari guru pembimbing. Tapi dengan berjalannya waktu lama kelamaan setelah saya renungkan dan pengalaman yang saya dapatkan arti dari kalimat tersebut ternyata cukup dalam juga.

Dalam kehidupan sehari-hari kadang atau malah mungkin sering kita temui orang-orang yang masuk dalam kategori appearance is cheating ini. Dari beberapa pengalaman saya juga, kadang bertemu dan bergaul dengan orang yang masuk kategori tersebut. Salah satu contohnya adalah orang yang saat pertama kali bertemu terkesan sebagai seorang yang benar-benar handal dan bisa kita percaya untuk melaksanakan suatu tugas tertentu karena omong besarnya yang meyakinkan, tetapi saat tiba saatnya dalam pelaksanaan pekerjaan baru ketahuan belangnya bahwa sebenarnya orang tersebut adalah membual belaka dan tidak tahu apa-apa, ada saja alasan yang keluar dari mulutnya untuk menutupi ketidakmampuannya ini.

Untuk itu janganlah kita mudah tertipu penampilan orang, jangan gampang minder atau rendah diri melihat dan mendengar kata-kata dan penampilan orang lain, karena belum tentu kemampuan kita kalah dari mereka. Karena mungkin itu adalah Appearance is Cheating.

Iklan

Jika Semua Bangsa Indonesia Pengusaha…?

Sosiolog David McClelland berpendapat,”Suatu negara bisa menjadi makmur bila ada entrepreneur (pengusaha) sedikitnya 2% dari jumlah penduduknya”. Sedangkan Indonesia hanya 0,18% dari jumlah penduduk atau 400.000-an orang saja yang menjadi pengusaha. Jadi negara kita ini masih jauh dari angka kemakmuran. Bandingkan dengan negara tetangga Singapore, mereka memiliki 7% populasi penduduknya sebagai pengusaha. Alhasil mereka kekurangan tenaga kerja dan mengimport dari luar. Apa faktor-faktor yang menyebabkan suatu negara
menghasilkan banyak pengusaha? Pertama, insentif sebagai pengusaha diperbesar, seperti kemudahan membuka badan usaha, fasilitas kredit usaha dengan bunga ringan, hingga keringanan pajak. Yang lebih penting lagi adalah ‘pembunuhan’ pungli oleh para aparat. Namun
itu semua bukan faktor utama, karena sifatnya ‘iming-iming’. Seperti saya tuliskan dalam kitab persilatan usaha ”The Power of Kepepet” (Gramedia), “Kepepet adalah motivasi terbesar manusia untuk berubah”.
Selama terlalu banyak proteksi bagi kaum pekerja, rasa nyaman itu akan menggerogoti mental bangsa ini. Nah, inilah faktor kedua yang terpenting harus dilakukan, terutama oleh pemerintah. Sejarah mencatat, para ‘patriot’ tumbuh saat penindasan terjadi. Memang kesannya tidak berperi ‘keburuhan’ dan akan terjadi gejolak jika hal ini diterapkan. Tapi saya yakin, lambat laun akan terlihat hasilnya, pertumbuhan perekonomian (dan pengusaha) akan meningkat. Namun itusemua juga harus diimbangi dengan maraknya kampanye menjadi ‘juragan’, hingga mereka tidak terlalu depresi dan menimbulkan gejolak. Just an idea, bagaimana jika kita buat gerakan
‘Sejuta Pengusaha’ atau ’10 juta Pengusaha’? Wah seperti apa negara ini jika pengusahanya membludak?
Pasti banyak pembaca mengerutkan dahi dan menanyakan,”Kalo semua bangsa Indonesia jadi pengusaha… Siapa yang akan jadi kulinya Mas J?” Gampang aja, ya tinggal import TKA (Tenaga Kerja Asing/Arab), TKB (Tenaga Kerja Bule), TKM (Tenaga Kerja Malaysia). Coba bayangkan, suatu saat Anda punya sopir orang bule, keren kan! Masak kita masih bangga menjadi negara pengeksport TKI, diperkosa lagi! Lagian, kondisi itu belum tentu terjadi dalam 1 abad ini di
Indonesia
. Kenapa? MENTAL PASRAHnya kelewat besar. “Sudah nasibku jadi karyawan, ya lakoni aja!” katanya. Kasihan banget tuh si ‘nasib’, selalu jadi kambing hitam. Sebagai bahan renungan terakhir,“Mengapa tenaga upah buruh di Indonesia murah?” Karena pengusahanya sedikit, kulinya melimpah! Jika pengusahanya banyak, kulinya dikit, pasti upahnya tinggi dan pengusaha tak akan semena-mena!

 

“Daripada Unjuk Rasa, Lebih Baik Kita Buka Usaha!” FIGHT!

 

Dikutip dari kamisetembang@yahoogroups.com diposting oleh Mas Jaya Setiabudi www.yukbisnis.com